Sinopsis Silsila Badalte Rishton Ka episode 30 bag 2


Loading...
Sinopsis Silsila Badalte Rishton Ka episode 30 bag 2. Nandini menyangkal, "aku sedang merayakan pertemanan, kemanusiaan, untuk semua yang kau lakukan padaku. Janjimu telah menariku keluar dari tempat di aman yang ada hanya kegelapan." Kunal teringat janjinya yang dia ucapkan saat mencegah nandini bunuh diri di tempat kontruksi waktu itu. Kunal menoleh ke arah mauli dan tertuduk. Nenek bertanya, "janji? Janji apa Kunal?"

mauli penasaran, "Kunal berjanji? Ayo beritahu kami. Karena tidak mudah bagi Kunal untuk menjanjikan sesuatu. Dia membuat komitmen untuk diri sendiri dan lupa. Mauli bertanya, "janji rahasia seperti apa ini? Katakan padaku!" Kunal dan nandini saling pandang. keduanya terlihat kebingungan. Lalu Kunal mencari alasan, kalau itu bukan janji tapi dukungan. Dan nandini telah salah bicara. Nandini mengakuinya, "ya, dukungan. jika Kunal tidak mendukungku, aku tidak akan kembali. AKu bisa membawa diriku kembali setelah Kunal mendukungku." Mauli menyuruh Nandini dan Kunal berhenti, "kalian telah merusak candaanku. Aku tahu, kalian berdau tidak akan pernah menyembunyikan rahasia dari aku. dna jika kalian melakukannya, itu pasti demi kebaikanku. Aku tahu..." Nandini mengangguk.

Nenek menegur, "kalian sudah selesai dengan pembicaraan antar sahabat, bisakan kita potong kuenya?" lalu Kunal meniup lilinnya. Mauli memtong kuenya dan mengambil sepotong. Dia menyuapi Kunal lalu nandini. nandini mengambil sepotong, dia menyuapi mauli. Mauli memberi isyarat pada nandini agar menyuapiKunal. Kunal tertegun. Diamengambil kue dari tangan nandini dan mengucapkan terima kasih.

Nenek meminta potongan terbesar. Nandini memotong kue untuk nenek yang paling besar. Nandini bertanya pad Kunal apakah kuenya enak? Kunal mengangguk, "yummy.." Lalu mauli menarik Nandini menjauh, dia ingin meminta di ajari menari oleh Nandini. Nandini menyahut, "Mauli mengajari menari adalah tidak mungkin. Aku tak bisa melakukan itu, Maafkan aku.." Nenek tersenyum. nandini ikutterkiki. Mauli kesal, "kau ini teman yang tidak berharga. Apakah kau mengejekku? Tidakkan kau tahu aku berdansa dengan baik?" Nandini tertawa, "ya, aku sudah lihat. Kau ingat pesta ulang tahun Priya kan?" Mauli menutup wajahnya menahan malu.

Nandini berkata kalau Mauli tidak penah menari dengan begitu buruk sampai waktu itu, "aku akan tunjukan bada kalian semua bagaimana Mauli menari.." Lalu Nandini mulai mempraktekan gerakan Mauli. Kunal menatap tanpa kedip. Semua orang tertawa melihat gerakan Nandini. Stelah mengakhiri tariannya, nandini berkata, "dia tidak berhenti menari sapai tarian nya selesai." Mauli tergelak. nandini memberitahu semua orang kalau Mauli tidak perduli dengan apa yang di rasakan orang. 

Mauli menghampiri nandini sambil tergelak, "untunglah zaman itu belum ada camera telpon.." Kunal merasa tidak nyaman, dan melangkan peri dengan diam-diam. Mauli melihatnya dan membantin, "kenapa dengan Kunal? Di atak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.."

Kunal berdiri melamun di balkon. Mauli datang dan memeluk Kunal dari belakang sambil bertanya, "apa yang kau sembunyikan dari aku?" Kunal heran, "apa? Aku tidak menyembunyikan apapun.." Mauli tidak percaya, "kenapa? Sejak kita kembali, kau terlihat kesal. kau tidak bicara atau mengatakan apapun. Apa yang kau pikirkan?" Kunal tak tahu harus menjawab apa. Mauli bertanya lagi, "apakah ada kata-kataku yang menyakitimu?" Kunal menyangkal, "tidak Mauli. Tolong jangan berpikir seperti itu..." Mauli bertanya lagi, "apa Nandini mengatakan sesuatu?" Kunal kaget, lalu dai menggeleng.

Mauli binggung, "lalau mengapa kau terlihat kesal? Itu seperti kau menghukum diri sendiri.." Mauli meminta Kunal membagi masalahnya, "bagaimana aku bisa menolongmu kalau kau tidak memberitahu aku?" Kunal memeluk Mauli dengan erat dan meminta Mauli agar tidak pernah mendinggalkan dirinya. Aku sangat merindukanmu." Mauli heran, "Kunal, seharian kau bersamaku.." Kunal menyangkal, "aku tidak bersamamu, hanya berada di dekatmu.." Lalu Kunal melepas pelukannya dan berkat akalau dia benar-benar merindukan Mauli. Mauli menyentuh wajah Kunal dan menatapnya dengan tatapan penuh pengerian, "kau merindukan kebersamaan denganku kan? Itulah mengapa kau kesal? tapi nandini..."

Kunal marah, Mauli, tolong ya. Ini antara kita, jangan bawa orang ketiga ditengah-tengah kita. tolonglah!" Mauli kaget. Dia memeluk Kunal sambil minta maaf, "maafkan aku, Kunal." Kunal membalas pelukan Mauli sambil berkata, "aku sangat mencintaimu, Mauli..." Mauli membbalas, "aku juga mencintaimu, Kunal.." Kunal berguman, "aku sangat mencintaimu..." Mauli mengelus rambut Kunal sambil membatin, "apa yang terjadi dengan Kunal? Kenapa dia terlihat terganggu..?" Dalam hati Kunal berkata, "apa yang terjadi? AKu sangat mencintai Mauli. AKu benar-benar mencintainya. Lalu mengapa hal seperti ini terjadi.

Kunal tersentak dari mimpi. Dia bermimpi mengejar Mauli, tapi saat dia menyangkah memeluk Mauli, ternyata dia memeluk Nandini. Kunal terlihat kesal. Dia menoleh kearah Mauli yang tidur di sampingnya, "Mauli adalah hidupku. Cintaku. lalu kenapa aku melihat nandinid alam mimpiku? Ap ayang terjadi padaku? mengapa aku merasa tak berdaya? Mengapa aku tak bisa mengontrol diriku sendiri? AKu mencintainya...!" lalu kunal merangkul Mauli dan mencium pipinya. Kunal berkat akalau dia tak bisa memikirkan tentang orang lain selalin Mauli.

Kunal bangkit dan menuju ke kamar mandi. Dia membasuh wajahnya lalu menatap cermin dengan wajah tegang. Di terbayang mimpinya lagi saat bersama nandini yang tersneyum mesra oadanya. gunal tambah tegang. Dalam hati, dia menenangkan diri, "Relax..relax Kunal, itu hanya mimpi.."

Kunal berdiri di epan kompor. Dia merebus air sambil melamun. Dalam hati, Kunal berkata, "daripada melihat mimpi seperti itu, akan lebih baik kalau aku tetap terjaga. Kunal menuang minuman kedalam cangkir. lalu berbalik. Tibaa-tiba nandini muncul di hadapannya, Kunal kaget dan minuman panas itu menumpahi tangannya. Nandini minta maaf, "aku tidak bisa tidur. AKu keluar untuk mengambil air. Maafkan aku. Apakah aku mengagetkanmu?" Kunal menjawab, "tidak apa-apa.."

Nandini melihat tangan Kunal yang tersiram air panas. nandini menyuruh Kunal menunggu. Dia mengambil baskom dan mengisinya denan es batu, lalu menuang air di dalamnya. Tanpa banyak bicara, nandini menarik tangan Kunal dan memasukannya dalam air dingin itu. Kunal protes, "Nandini, aku tidak apa-apa.." Nandini tidak protes, "bagaiman atidak apa-apa, telapak tanganmu tersiram air panas dan memerah.." Kunal menatap nandini yang sedang merawat tanganya dengan wajah bingung... 

Bagikan :
loading...
Back To Top