Hai !!! Selamat membaca..! Semoga terhibur...

loading...
Loading...

Sinopsis Silsila Badalte Rishton Ka episode 19

Sinopsis Silsila Badalte Rishton Ka episode 19. Kunal menghampiri Rajdeep dan menarik kerah bajunya, "aku berharap, aku ini bajingan seperti dirimu. Agar aku bisa memukulmu. Jika kau berani mengangkat tangnmu atau suaramu pada salah satu wanita ini, maka aku akan menghajarmu... hingga kau memohon untuk di rawat di rumah sakit ini! Dan rumah sakit ini, dan rumah sakit ini maupun rumah sakit yang layak di kota ini, tidak akan menerima dirimu. Paham?"

Rajdeep membalas, "aku tak takut dengan ancama kosong mu..." Kunal melepas kerah baju rajdeep dan merapikannya, "aku tidak memberi ancaman kosong. Cobalah! Aku menantangmu.." Kunal menyuruh Rajdeep membentak Nandini atau Mauli di depannya saat itu juga., "lalu, aku bukanhanya menghajarmu tapi juga menelpon polisi. Dna aku akanmemastikan kau akan di penjara paling sedikit 5 tahun." Rajdeep terlihat berpikir.

Nandini berusaha melepaskan genggaman rajdeep di lengannya. Kunal melihat itu dan memerintahkan Rajdeep melepas tangannya. Rajdeep tidak bereaksi. Nandini melepaskan diri dan melangkah kearah Mauli. Mauli menyambut Nandini dan memeluknya. Rajdeep menyerigai gentar dan menyuruh Kunal membawa nandini pulang jika dia sangat menyukai kerja sosial, "tapi besok? Siapa yang mau menerima gadis tidak berpendidikan ini? Dia tak bisa melakukan sesuatu dengan baik. Sepanjang urusan kesetiaan, hari ini, kalian semua melihatnya. Seorang istri yang tidak setia pada suaminya, dia tak akan setia pada siapapun. Meski pada sahabatnya. Cepat atau lambat, dia akan kembali padaku!" Nandini menggeleng ketakutan. Rajdeep menyerigai, "dan kalian tidak akan sanggup menanggung bebannya sepanjang hidup.."

Mauli menjawab, "kami bukan teman, tapi keluarga. Nandini adalah keluargaku sendiri." Rajdeep tersenyum mengejek, "aku setuju kalian seperti saudara, tapi saudara juga tidak akan tinggal bersama sepanjang hidup. Berapa lama kalian akan menanggung beban hidupnya? Nandini tidak bisaa apa-apa selain menyebabkan kerugian. Dia tak berguna!"

Mauli menjawab dengan ketus, "Rajdeep, kau jangan mencari untung rugi dalam sebuah hubungan. Tapi kau tak akan mengerti ini. Yang harus kau tahu adalah, aku akan mengurus nandini. Dia akan menjadi tanggung jawabku. Nandini akan tiggal bersamaku." Kunal menyambung, "kami akan mengurusnya. Kami berdua..." Mauli mengangguk gembira. Nandini tersenyum haru.

Rajdeep mengejek, "kasih sayang kalian sangat terpuji. Persahabatan yang kokoh. Ikatan yang kuat. tak apa. Bawa pembuat onar ini bersamamu. Bawa saja. Semoga beruntung. Selamat. Tapi ingat 1 hal, aku berharap pembuat onar ini tidak akan menjadi masalah besar yang tidak bisa kalian singkirkan kelak. Sekarang kalian bertiga pasti sangat bahagia. Tapi besaaok, kalian akan menyesal. Semoga beruntung Nyonya! Mauli..." Lalu sambil melirik Kunal, Rajdeep berbalik pergi. Di ikuti tatapan lega Kunal, Mauli dan nandini.

Di apartemen Mauli, Pramila sedang membuat rangoli. Ibu mertua menata masakan di meja makan sambil mengumumkan kalau hiasan dan masakan telah siap, "tapi mereka belum datang." Nenek menegur Pramila yang belum menyelesaikan pekerjaanya, "sepatlah Pramila! Aku sudah bicara dengan kunal, dia akan tiba sebentar lagi.." Pramila minta nenek tidak memburu-buru dirinya, "lagui pula, kenapa kita menghias rumah?" Nenek menjawab dengan gembira, "untuk menyambut kedatangan menantu." Ibu mertua tersenyum geli. Pramila bertanya, "menantu siapa? Apakah menantu barumu akan datang?" nenek menegur pramila, "bodoh sekali! Kalau kau tidak bisa terlihat baik, setidaknya ucapkan sesuatu yang baik.." 

Lalu nenek menjelaskan pada pramila kalau hari ini adalah hari pertama dia bertemu menantunya, "pertama kali Kunal membawa Mauli kerumah. Ayah Kunal baru saja meninggal waktu itu. Seluruh keluarga bersedih. Tapi begitu Mauli datang, semua kebahagian kembali. Sejak hari itu, kami menganggap hari ini hari keramat. Dan setiap tahun merayakannya." Pramila tertawa penuh kekaguman, "mereka berdua sangat serasi. Semoga tuhan melindungi mereka dari mata setan.." Nenek mendoakan hal yang sama. Ibu mertua hanya tersenyum gembira.

Lalu nenek menyuruh ramila menggantung untaian bunga. Karena untaian bunga itu berguna untuk mengusir setan. Pramila heran karena Kunal dan Mauli belum datang. Nenek merasa kalau Kunal dan Mauli pasti lupa, karena pekerjaan, "tapi tak apa. Akan lebih menyenangkan kalau bisa memberi mereka kejutan. Ayo, cepat pasang!!" Pramila menggantung untaian bunga yang telah di bentuk sedemikian rupa di pintu masuk. Pramila mendengar kedatangan Mauli dan Kunal. Pramila memberitahu nenek kalau mereka sudah datangf. Pramila menutup pintu. nenek melarangnya, "jangan tutup dari dalam, biarkan mereka berdua masuk berbarengan..."

Mauli masuk sambil menggandeng Nandini yang terlihat binggung dan sedih. Saat tiba di depan pintu, Nandini menghentikan langkahnya. Mauli dan Kunal saling tatap dengan heran. Mauli menatap nandini dan bertanya, "ada apa?" Nandini merasa canggung. Mauli menegurnya, "apa kau gila? Mengapa kau merasa canggung? Ini rumah temanmu. kau punya hak untuk masuk..." Nanadini takut kalau kedatangannya menyebabkan rasa tidak nyaman. Mauli menghiburnya.

Nenek menunggu di depan pintu dengan keranjang bunga. Pramila menyuruh nenek melemparkan bunga kearah Kunald an mauli saat masuk. Ibu mertua mendengar itu. Dia segera mengambil keranjang bunganya dan berlari kearah pintu. Nenek menyindirnya, "hiasannya sangat bagus. tapi bagaimana dengan makanannya? Ap ayang dia masak? Sayur buncis? Dia membuang waktu seharian untuk membuatnya.." Ibu mertua tercengang dan melirik nenek smbil menahan senyum.

DI luar, Mauli sedang memberi Nandini pengertian, "tunggu dan lihatlah. Kau akan menjadi kesayangan ibu dan nenek. Mereka tidak akan memperhatikan aku lagi." Nandini menyengkal, "apa ynag kau katakan Mauli?" Kunal dan Mauli tersenyum. Mauli berkata, "ini pertama kalinya kau datang kerumahku. Lupakan masa lalumu untuk memulai permulaan yang baru." nandini menatap mauli. Mauli mengangguk dan mengucapkan selamatdatang. Kunal ikut mengangguk dan tersenyum. mauli meminta Nandini menganggapnya sebagai rumah sendiri. Kunal mengajak keduanya masuk.

Mauli menggandeng nandini, sementara Kunal melangkah di sampingnya. Mauli melihat papan namanya hampir jatuh. Mauli membiarkan jalan sendiri sementara dia membenahi papan nama yang miring. Kunal dan nandini terus melangkah. Keduanya tiba di depan pintu. Begitu pintu terbuka, untaian bunga yang di gantung di pintu menimpa keduanya. Di tambah dengan nenek dan ibu merua melempari mereka dengan bunga. Kunal dan nandini tertegun. Keduanya saling pandang. Nandini terperanjat melihat untain bunga di lehernya dan leher kunal. Mauli menjatuhkan papan namanya dan memunggutnya kembali.

Kunal dan Nandini mencoba melepaskan diri dari karangan bunga. Dalam upayanya Nandini menginjak hiasan Rangoli di sudut ruangan hingga berantakan. Nenek berbisik pada Pramila dan ibu mertua, "siapa yang bersama kunal itu? Dan Mauli mana?" Ibu mertua terlihat cemas. tapi begitu melihat mauli, dia tersenyum lega. mauli muncul di belakang Kunal sambil menatap papan namanya yang jatuh.  mauli kaget melijat Kunald an nandini terjebak dalam kalung bunga. Mauli tersenyum geli dan mendekati kunal,"bagaimana kalian berdua bisa terjebak dalam kalung itu?" Nandini terlihat cemas. Kunal mengadu manja, "entahlah mauli. Tolonglah kami.." Mauli tersenyum, "biar aku lepaskan. Tunggu...!"

Mauli meletakkan papan nama di meja dan membantu Kunal melepas kalung bunganya. Setelah itu dia membantu Nandini. Nandini minta maaf. Mauli melarangnya minta maaf, "mengapa kau minta maaf? Ini bukan salahmu. Ini terjebak dengan sendirinya.." lalu mauli membantu melepas kalung bunga itu, tapi agak susah. Karena tersangkut mangalsutranya. Nenek dan Ibu mertua menatapnya dengan heran. Tapi akhirnya Mauli berhasil melepaskan kalung bunga itu dari leher Nandini.  

Mauli meletakkan kalung bunga itu ke meja, lalu merapikan rambut nandini. Ibu dan mertua menarik nafas lega  dan heran melihat perhatian Mauliu pada Nandini. Nandini melihat hiasan ragoli yang rusak, "maafkan aku. AKu telah merusak hiasannya.." Mauli tersenyum santai, "tak apa. Akan segera di perbaiki. Aku akan menghiasnya lagi. Ok.." nandini tertunduk. Mauli menatap sekeliling dan memberitahu nandini, "lihatlah, seluruh isi rumah menyambutmu."

Penulis

Popular Posts

Daftar Episode

Loading...
Loading...