Hai !!! Selamat membaca..! Semoga terhibur...

loading...
Loading...

Sinopsis Silsila Badalte Rishton Ka episode 32 by Meysha Lestari

Sinopsis Silsila Badalte Rishton Ka episode 32 by Meysha Lestari Selama konser berlangsung, Kunal tak henti-hentinya menatap pintu masuk mengharap kehadiran Mauli. Tapi yang ditunggu tak juga muncul. Kunal menoleh kearah nandini yang terlihat khusyuk menikmati musik. Kunal tertegun oleh pesona nandini. Dia tak bisa mengalihkan tatapan matanya dari wajah nandini. Ketika Nandini menoleh kearah Kunal, Kunal melempar senyum kikuk dan mengalihkan pandangannya. Tapi begitu Nandini menoleh kedepan, Kunal kembali manatap nandini. Ketika akhirnya Mauli datang dan duduk diantara keduanya, Kunal terlihat kesal karena merasa keasyikannya terganggu.

Sepulang dari konser, Kunal duduk di termenung di tempat tidur. Sementara Mauli bicara tentang betapa senang hatinya menonton konser itu dan mengucapkan terima kasih pada Kunal. Kunal larut dalam lamunannya, sesekali bayangan nandini yang asyik menikmati konser melintas di benaknya. Mauli merasa harus mengucapkan terima kasih juga pada Nandini karena telah menyelamatkan dirinya, "ada telpon penting yang masuk. Untung ada Nandini. Kau ingat dulu kau pernah marah-marah padaku karena telat masuk bioskop. Kalau tidak ada Nandini, peristiwa yang sama pasti akan terulang lagi.."


Kunal membentak Mauli dengankesal, "kenapa kau bicara terus menerus tentang nandini? Nandini begini, Nandini begitu...." Mauli tersentak heran. Kunal nggomel, "aku tanya, kenapa Nandini bisa berada disana? Kenapa dia selalu berada diantara kita?" Mauli bingung, "kenapa kau bicara begitu?" Kunal balik bertanya, "Kenapa kau membawanya diacara perayaan kita? Dan kau... kenapa kau berikan sare itu padanya? Sare yang aku hadiahkan padamu? Kau tak pernah memakai sare itu tapi malah kau berikan padanya. Apakah kau tak perduli dengan perasaan, emosi dan cara menghargai orang lain? Kenapa kau selalu menganggap enteng semua hal? Kelewatan!"

Baca Juga: 


Mauli dengan perasaan bersalah meminta maaf pada kunal, "maafkan aku, Kunal. Aku tidak tahu jika kau merasa tersinggung..." Mauli menjelaskan pemikirannya. Dia merasa kalau nandini telah diam dirumah seharian, dan butuh keluar, "aku hanya meminjamkan sare itu untuk hari ini, bukan memberikannya. Dna tidak akan memberikannya pada siapapun. Kunal, aku menyimpan setiap pemberianmu dengan baik. Kau ingat anting pink dan biru yang kau berikan padaku? AKu masih menyimpannya..."


Kunal menoleh kearah Mauli dan tersentuh oleh keluguan istrinya. Mauli kembali meminta maaf, "aku tahu seharusnya hanya kau dan aku yang pergi ke konser musik. AKu tahu itu kesalahanku. Seharusnya aku tak melakukan iu.." Mauli meminta Kunal agar memberitahu dirinyaharus bagaimana mana? Mauli bersedia dihukum atau harus mengililingi lapangan 10 kali. Tapi sebelum Mauli melanjutkan kalimatnya, Kunal memeluknya dengan erat.  Kunal terlihat sedih dan binggung.

Mauli membalas pelukan Kunal dengan heran, "Kunal...?" Kunal meminta Mauli agar tidak pergi kemana-mana dan tidak melakukan apapun. Mauli heran, "ada apa Kunal?" Kunal meminta Mauli selalu ada di dekatnya. Kunal melepas pelukannya dan meminta maaf pada Mauli, "maafkan aku karena telah berteriak padamu... maafkan aku!" Mauli menggeleng, "tidak Kunal. AKu yang harus minta maaf. Aku yang bersalah..." Kunal memeluk Mauli. Dalam hati Kunal merasa sangat bersalah, dan mengakui kalau itu semua salahnya bukan salah Mauli, "aku meneriaki diriku sendiri. Bukan dirimu. Aku yang membawa nandini diantara kita. Tapi kenapa? Kenapa? Bahkan setelah memiliki istri sebaik dirimu. Bagaimana bisa aku memikirkan wanita lain?" Kunal menitikkan airmata penyesaalan dalam kebingungannya.

Kunal dan Mauli menikmati waktu berdua di ayunan. Kunal menatap mauli, "Mauli..." Mauli menoleh kearah kunal. Kunal mengajak Mauli berlibur. Mauli mengaku kalau mereka sudah lama tidak berlibur bedua. Dia merasa dulu lebih baik, karena mereka punya kebersamaan khusus di hari Sabtu. Kunal mengiyakan. Mauli memberitahu Kunal kalau dia berencana untuk berhenti dari kerja hari Sabtunya bersama Dr Nayak. Kunal kaget, "Sungguh? Kau yakin ini tidak akan mempengaruhi pekerjaaanmu?" Mauli tidak perduli, karena waktunya bersam aKunal lebih penting. Kunal tersenyum bahagia.

Mauli terlihat gembira, "karena terkesan oleh Senyum Tuan Kunal Malhotra, Mauli malhotra akan peri untuk membuat teh panas di malam spesial ini.." Selesai bicara, Mauli meloncat turun dari ayunan dan hendak masuk kedalam. Tapi Nandini keburu muncul sambil membaca nampan, "teh panas sudah siap..." Mauli tertawa, "lihat, teh panasnya sudah tiba. Kenapa kau merepotkan diri, nandu?" Nandini menyodorkan nampan teh, "tak apa. Ambillah.." Mauli segera mengambil cangkir berisi teh panas. Kunal terlihat tak bersemangat. nandini menghampiri Kunal dan menyodrokan secangkir teh. Kunal menyambutnya dengan enggan.

lalu ketiganya duduk bercakap-cakap. Nandini berkata kalau malam ini adalah malam yang indah baginya. Dia belum pernah peri ke pertunjukan musik sebagus itu. Nandini mengucapkan terima kasih karena Kunal dan Mauli sudah mengajaknya. Mauli menyuruh Nandini berterima kasih pada Kunal, karena dia yang punya ide. Nandini mengucapkan terima kasih. Mauli berkata kalau semua itu adalah ungkapan kasih sayang dari dirinya dan Kunal.

Sebagai rasa terima kasih, Nandini ingin memasak sarapan untuk mereka besok. Dia baru mendapat resep baru dari Tv. Kunal menilak, dia ingin makan Idli Samber. Nandini berkata akan membuatnya. Tapi Kunal ingin Mauli yang memasaknya. Mauli segera setuju. Mauli tahu kalau dia tak pandai memasak seperi Nandini, tapi kalau masakan biasa saja dia bisa, "sedikit banyak aku berusaha melakukan pekerjaan rumah tangga.." Nandini tahu Mauli bisa melakukan banyak hal, dan pasti juga bisa memasak. Mauli tertawa. Nandini memutuskan kalau besok dai dan Kunal akan menunggu hasil masakan Mauli untuk sarapan. Mauli mengangguk pasti sambil tertawa. Nandini main mata dengan Kunal. Kunal terlihat jenggah. Dia lalu pamit tidur. Mauli dan Nandini mengucapkan selamat malam. Sepeninggal Kunal, Mauli dan nandini bicara tentang drama televisi yang sedang tayang.

Tengah malam, Kunal terbangun karena badai yang terjadi di luar. Di aberanjak untuk menutup jendela dan kemali tidur memeluk mauli. Belum juga terpejam, dia mendengar suara pintu beradu di luar. Kunal keluar dari kamarnya. Dia melihat nandini sedang berjuang melawan angin untuk menutup pintu dan kesulitan. Kunal tertegun melihat Nandini. Dengan ragu dia mendekat untuk membantu Nandini. Kunal memegang pegangan pintu dan tanganya bersentuhan dengan tangan nandini. Nandini menoleh kearah Kunal dan tersenyum manis. Kunal terpesona oleh senyuman Nandini, Sesaat keduanya saling tatap. Lalu berdua mereka menutup pintu. Nandini mengunci pintu. Kunal mundur dan menghilkang. Nandini berkata kalau angin begitu kencang, "..sebentar lagi pasti akan turun hujan, benarkan Kunal?" Saat Nandini menoleh, Kunal sudah lenyap. 

Penulis

Popular Posts

Daftar Episode

Loading...
Loading...