Sinopsis Silsila Badalte Rishton Ka episode 29


Loading...
Sinopsis Silsila Badalte Rishton Ka episode 29. Nandini terperanjat kaku. Dia merasa seseorang menarik sarinya. Dia tegangd an shock. Airmata ketakutan menetes di wajahnya. Tubuhnya gemetar. Dia ingin menoleh, tapi takut. Terdengar panggilan Kunal, "Nandini..?" Nandini menoleh kearah Kunal dengan cepat. Kunal mendekat. Nandini cepat meraih Kunal dan mencengkeram tangannya. Kunal merasa heran, "Nandini? Ada apa nandini? Mengapa kau ketakutan?" Dengan terbata-bata nandini memberitahu Kunal kalau Rajdeep ada di tempat ini. Kunal heran, "Rajdeep? mana dia?" Kunal menatap sekeliling.

nandini menjawab, "di belakangku.." Kunal menatap ke belakang nandini. Dia melihat kain sari nandini tersangkut. Dia menyuruh nandini menoleh. Nandini tak mau. Kunal memaksanya, "nandini, tengoklah kebelakang. Aku ada di sini bersamamu. Lihatlah kebelakang!" Dengan ketakutan nandini menoleh. Dia melihat ujung sarinya tersangkut. Nandini menarik nafas lega.

Kunal melepas sari dari kaitannya lalu menegur Nandini, "kau ketakutan tanpa alasan. Apa yang terjadi padamu?" Nandini memberitahu Kunal kalau seseorang menyebut nama Rajdeep. Kunal mengingatkan nandini kalau alasan rajdeep berada di tempat itu adalah karena nandini memanggilnya, "dalam hayalanmu. Coba lihat, Nandini. Rajdeep berada di sini meski ketika dia tak ada di sini. Dia ada dalam pikiranmu. Faktanya, dia alasan mengapa wajahmu menjadi pucat. Kau selalu tegang dan berpikir tentang dia. Padahal kenyataanya dia berada dalam penjara. Jika kau menginginkannya, maka dia tidak akan pernah masuk dalam pikiranmu. Dia akan membusuk di penjara. Sekarang masalahnya, dia selalu menggangumu dalam pikiranmu."

Mauli datang dan menegur Kunal, "Hei Kunal, kau kemana saja?" Kunal melihat Mauli membawa tas belanjaan, "kau menawar lama sekali. Aku pikir kita harus membeli rumah baru untuk semua barang-barang ini." Mauli meminta Kunal tiak menggodanya, "lihat ini, aku telah selesai belanja.." Kunal menggoda, "wow keren...!!" mauli tertawa. Dia menoleh kearah nandini yang terlihat tegang. Mauli menyenggolnya, "hei, nandini! Apa yang terjadi? Apakah kau baik-baik saja?" nandini menjawab, "aku tidak menemukan kalian berdua, jadi aku ketakutan.." 

Mauli menggoda Nandini, "hei, idiot! Kami tidak akan meninggalkanmu dan pergi begitu saja..." nandini ingin pulang. Kunal setuju. Begitu pula Mauli. Mereka berjalan bersama menuju pulang.

Malamnya, Nandini menatap henna di tangannya sambil meningat-ingat kata-kata Kunal. Menurut Kunal, Nandini adalah alsan rajdeep berada bersamanya bahkan ketika rajdeep tidak ada. Karena nandini selalu memikirkan rajdeep. Kunal menyuruh Nandini tidak memikirkan rajdeep lagi. Nandini berkata kalau dia bisa dengan mudah melupakan rajdeep. 

Tiba-tiba terdengar suara protes Mauli karena Henna di tanganya yang warnanya sudah memudar. nandini cepat-cepat menghapus airmatanya. Mauli duduk di tepi tempat sambil berkata, "orang-orang seenaknya bilang kalau warna henna akan menjadi gelap jika suamimu sangat mencintaimu. Benar-benar omong kosong..." Mauli menatap henna di tanganya yang tidak berbekas, "seperti ada orang yang mencuci tanganku..." Mauli menduga kalau hennanya akan berwarna gelap, karena Kunal mencintai dirinya lebih dari seorang suami mencintai istrinya. 

Melihat kebisuan nandini Mauli bertanya, "lupakan tentang hennaku, mengapa wajahmu terlihat pucat? kau mulai hidup dengan daftar keinginamu hari ini. Bagaimana perasaanmu?" Nandini menyahut, "bagus. Aku merasa beruntung. Memiliki teman seperti dirimu. yang akan mengajariku, caranya menjalani hidup sekali lagi. Tapi jangan khawatir tentang henna. Tidak sebenar itu, tapi setidaknya menajdi pelengkap.." Nandini menunjukan henna di tapak tanganya, "lihatlah hennaku, tidak lengkap, seperti impianku yang tak lengkap. Pernikahan yang tidak lengkap. Semuanya selalu tidak lengkap..."

Nandini merasa beruntung, Mauli mengajaknya ke pasar itu, "aku sangat menikmaytinya. Kompetisi Golgappa, permainan menembak bola, makan burger dengan tanganku.. AKu telah tinggal di kota ini sejak beberapa waktu, tapi aku tak pernah melihat semua itu. " Mauli tertunduk meresapi kata-kata nandini. Lalu dia bangkit dan menyuruh nandini bangkit dari duduknya. Dia membawa nandini kesofa dan mendudukannya di sana. Sementara dia duduk di tempatnya semula, menghadap Nandini. Lutut keduanya beradu.

Nandini meminta mauli agar tidak sedih, "aku mengatakan yang sebenarnya. Aku telah mencoba, tapi aku tidak mampu. Seperti henna yang tidak lengkap ini, aku merasa semuanya tidak lengkap. yang sebenarnya adalahm, aku ini kucing yang penakut. Aku tak mampu mengumpulkan rasa keberanianku untuk berbahagia.." Mauli menenangkan nandini, "tidak, Nandu. Kau bukan kucing yang penakut. Kau ini idiot. Sangat Idiot. Idiot nomer satu.  kau tidak mengerti kalau kesedihan yang terkumpul sejak 6tahun yang lalu, tidak akan bisa berkurang hanya dalam waktu yang singkat. Ketika badan terluka, maka butuh seminggu untuk sembuh kan? Ini trauma mental, ini akan membutuhkan waktu lebih lama.."

Mauli bertanya apakah nandini tahu bahwa hal terbaik adalah Nandini telah memulai sesuatu yang baru, "kau sudah membuat daftar, daftar kesenangan. Dan kau telah bergerak maju untuk memenuhi semua itu. Dan jangan biarkan rajdeep masuk ke dalam babak baru hidupmu ini. Jangan biarkan bayangannya atau kenangannya, masuk kedalam hidupmu lagi." 

Mauli pergi untuk mengambil spidol coklat. Daia meminta Nandini menunjukan telapak tanganya. lalu dengan spidol itu, Mauli melengkapi henna yang setengah jadi itu sambi berkata, "Hidupkan impianmu lagi. hanya untukmu sendiri. Seperti sebuah rumah yang di susun oleh bata demi bata, dengan cara yang sama, majulah menuju mimpimu selangkah demi selangkah. Menuju kebahagiaanmu. Dna kau tidak akan tahu, kapan kebahagiaanmu yang tidak lengkap menjadi lengkap.." Nandini mengangguk penuh harap.

mauli berdiri di teras, menatap langit malam. Kunal datang sambil membawa secangkir teh. melihat kegundahan wajah Mauli, Kunal bertanya, "ada apa? Mengapa aku melihat kecemasan di wajahmu yang kupuja?" Mauli menyahut, "tidak ada apa-apa. Aku baru saja bicara pad nandini. Dia sangat sedih..." Kunal menjelaskan, "dai tidak sedih, dia ketakutan.." Mauli memberitahu kunal apa yang di katakan nandini padanya bahwa dia takut untuk memulai hidup baru, "takut untuk bermimpi lagi..."

Bagikan :
loading...
Back To Top