Sinopsis Silsila Badalte Rishton Ka episode 25 bag 2


Loading...
Sinopsis Silsila Badalte Rishton Ka episode 25 bag 2. Nandini terlihat kaget. Mauli menatap nandini dengan tatapan cemas dan wajah oleh airmata. Mauli mendekati nandnini. Nandini tertunduk dengan perasaan bersalah. Kunal meminta Mauli menjaga temannya dengan baik, karena dia mau pergi. Mauli memeluk nandini, "kau mau kemana?" nandini tak mampu menjawab. Kunal yang menjawab, "ketempat yang jauh, tapi sekarang dia telah kembali.." nandini menarik tanganya dari genggaman Kunal lalu mendekap mauli.

Mauli melepas pelukannya dan menanyai nandini, "seorang bajingan menuduhmu tanpa bukti dan kau pergi begitu saja? Nandini aku bertemu denganmu dengan susah payah, dan kau akan pergi meninggalkan aku lagi? AKu tahu kau pasti terluka dengan kata-katanya, tapi itu bukan berarti kau bisa m,eninggalkanku dan pergi begitu saja.." nandini terdiam dalam binggung.Mauli memberitahu nandini kalau dai telah menampar makhija dan mengusirnya dari rumah, "dia tak akan punay keberanian untuk datang lagi." Kunal mengulum senyum. Mauli memberitahu nandini kalau tak seorangpun yang yang percaya dengan tudingan Makhija, dan Nandini tak boleh mengambil keputusan sendiri.

"Karena aku tidak akan membiarkanmu pergi kemanapun. kalau kau mau pergi, aku akan ikut denganmu..." ucap Mauli.Nandini manyahut cepat, "tidak! Jangan bilang begitu. Aku tidak akan kemana-mana.." Nandini menatap Kunal dan berkata kalau dia tidak akan kehilangan keberanian lagi. Kunal tersenyum. Mauli meminta nandini berjanji. Nandini mengangguk, "jangan menangis..." Mauli mengenggam jemari nandini dan menciumnya penuh kasih sayang. Lalu Mauli mengajak nandini pulang. Nandini menurut. Mauli membimbing nandini. Nandini menoleh kearah Kunal yang terlupakan. Kunal mengangguk mengikuti keduanya dari belakang.

Di rumah Mauli, para tamu telah pergi, tinggal Ibu mauli dan Mayangk, serta Prem dan Sweety. Ibu mertua duduk di sofa dengan gelisah, begitu pula nenek. Ibu Mauli berkata kaalau dirinya tak mengerti apa yang sduah terjadi, "anak-anak ini tak tahukalau telah membawa gadis bermasalah kerumah. Mauli di butakan oleh ras persahabatannya. Kasihan Kunal dia terjebak demikebaikan mauli. Tapi kita orang tua, kita harus mengerti.." Ibu mertua dan nenek mendengarkan dengan ucapan ibu mauli dengan malas. 

Ibu mauli berkata kalau dia mengenal nandini sejak kecil, "dia punya karakter yang tidak disiplin sejak kecil. Dia tidak tertarik pada pelajaran. Dia sibuk kelayapan sepanjang hari. Tapi siapa yang menyangkah kalau dia menjadi tidak tahu malu setelah di tinggal mati kedua orang tuanya. Kita harus mengusirnya dari rumah ini sekarang juga..." Mayank mengeru ibunya, "mama..." tapi sweety setuju dengan ibu Mauli, "bibi, kau benar sekali. Suaminya mabuk berat malam itu. Jika orang seperti itu sering kerumah kita, apa yang akan di katakan orang-orang?" Ibu Mauli setuju. Ibu Mertua menatap Sweety dengan alis terangkat. 

Sweety meralat kata-katanya, "maksudku, kami seperti keluargamu, jadi tidak apa-apa. Tapi bagaimana dengan yang lain?" Ibu mauli berkata kalau Nandini terkutuk, "dia merusak kehidupan orang lain. pertama dia membawa sial untuk kedua orang tuanya, kini untuk suaminya. Tendang dia secepatnya.." Sweety setuju. Terdengarsuara mauli menegur ibunya, "ma!!"

Semua orang menatap ke pintu. Mauli masuk sambil menggandeng nandini. Kunal mengikuti di belakang mereka. Mauli menghampiri ibunya sambil menggandeng tangan nandini. Dia berdiri di depan ibu dan berkata, "dihari dia datang kerumah mu, ibu bisa mengusirnya. " Ibu kaget, "mauli, kaus udah hilang akal? Tidakkah kauingat dia mencampakkan dirimu demi rajdeep? kau masih mendukungnya?" mauli menjawab, "ma, itu dulu. Aku tak bisa menolong dia waktu itu, tapi hari ini, berbeda..." 

Mayank meminta ibunya menahan marah. Ibu malah membentak Mayank, "kau diam saja!" Ibu tidak mengerti apa maksud Mauli, dia meminta Kunal memberi penjelasan pada mauli, "dia tak pernah mau mendengarkan ibunya. Dna dia selalu mendahulukan orang asing dari pada orang terdekatnya.." Ibu merasa bersyukur karena makhja membuka kedok nandini, "dia menyembunyikan rahasia besar di balik wajah lugunya. Siapa yang menduganya?"

Kunal meminta ibu membicarakan hal itu nanti saja. Ibu meyela, "Kunal, nak. Itu mungkin sudah terlambat. Gadis ini akan membuat masalah besar di rumah ini. Usir dia sekarang juga. Aku tidak akan membiarkan dia tinggal di sini!" Mauli menyahut, "betul ma, kau tidak tinggal di sini dan ini bukan rumahmu. Tolong pergilah. Nandini akan tinggal di sini." Ibu kaget dan tak tahu harus berbuat apa. Dia memohon pada nenek agar memberi keputusan, "ini rumah kalian. Sekarang kalian harus memutuskan. Apa yangs alah dan apa yang benar."

ibu mertua menjawab, "kau benar, tapi aku mendukung anakku.." Ibu terlihat kaget dan kecewa. Nenek menarik nafas. ibu mertua berkata kalau dia mendukung mauli. Kunal juga. lalu Ibu Mauli menghampiri nenek, menyuruhnya bicara, "tak ada yang akan menyangkal kata-katamu. Tolong bicaralah!" Nenek menyahut, "Jyoti, kekhawatiranmu tidak beralasan. Dia hanya sedang dalam masalah. Dalam keadaan seperti ini, ini adalah kewajiban kita semua untuk membantunya. Apakah aku salah?" Ibu mauli kecewa dan putus asa.  Dengan geram dia berkata kalau nandini bukan sedang dalam masalah, "masalah itu adalah dirinya sendiri. Apa kalian semua tidak mendengar apa kata orang tadi? kelakuannya tidak bermoral."

Mauli tidak tahu harus berkata apa. Kunal hanya bisa mengelus jidat. Nandini tertunduk diam. Ibu merasa enggan. Nenek yang menjawab, "kalau kita menghakimi karakter wanita berdasarkan persepsi pria, maka semua wanita akan di salahkan. Apalagi dengan persepsi seorang pria seperti makhija. Niatnya saja sudah kotor, di tambah lagi kata-katanya kasar dan tidak sopan..." Ibu kaget. Nenek memberitahu ibu Mauli kalau kata-kata Makhija tidak membuat mereka menentang Nandini, "Mauli benar, dia akan tinggal di sini..." lalu nenek menyuruh Nandini pergi ke kamarnya untuk istirahat. Nandini menatap mauli, Mauli mengangguk. Nandini menatap Kunal, Kunal menyuruh nandini pergi.

Ibu geram, "okay, kalau kalian semua sudah memutuskan, aku tidak akan menentang..." Lalu ibu mohon pamit. Sebelum pergi, ibu mengampiri Mauli, "bodohnya Mauli. tapiingat, kau telah membuat kesalahan. kau akan menyesalinya nanti..." Mauli menatap ibunya dengan kaget. Ibu mertua juga.  Ibu meminta mauli mengingat kata-katanya. Mayank mengajak ibunya pulang, "ini rumah mereka. Hormati keputusan mereka. Kenapa ibu menakut-nakuti mereka?" Lalu mayank menggandeng ibunya dan mengajaknya pergi, "maafkan aku kak..." ucap mayank sebelum pergi. Sweety ikut mengajak Prem pulang. Mauli tertunduk dengan mata basah.

Malamnya, nandini duduk di sofa dengan tatapan kosong. Dia tak menghiarukan suara daun jednela yang tertiupangin kencang. Mauli datang sambil membawa susu kunyit. Dia prihatin melihat keadaan nandini. Mauli meletakkan susu di meja dan menghampiri nandini, "nandini, mengap akau duduk di sini? Di sini dinggin..." Mauli membimbing nandini ke tempat tidur. Lalu dai menutup jendela.

Setelah itu dia mengambil susu dan meminta nandini meminumnya. Nandini tidak bereaksi. Mauli membujuk nandini, :kau bekerja keras seharian dan tidak makan apapun. Kau akan sakit nanti..." Mauli berkata kalau dia bisa merasakan apa yang di rasakan nandini ketika karakternya di salahkan, "kita telah melepaskan Makhija begitu saja. Kita harus menuntutnya. Aku punya teman pengacara..."

Lalu nandini berkata, "aku pergi telah bicara padanya. Aku telah menemuinya... di hotel president kamar no 2208. Aku pergi menemui Makhija..." Mauli terperanjat mendengar pengakuan nandini...

Bagikan :
loading...
Back To Top