Sinopsis Silsila Badalte Rishton Ka episode 30


Loading...
Sinopsis Silsila Badalte Rishton Ka episode 30. Kunal melamun memikirkan Nandini dan momen-monen spesial yang terjadi di depan matanya. Seperti ketika Nandini menari di bawah hujan. Mauli datang menganggetkan Kunal, "Kunal..!" Kunal menoleh dengan kaget. Mauli heran, "knepa dirimu kok kaget?" Kunal menjawab dengan gagap, "tidak ada apa-apa. Aku hanya letih."

Mauli melihat rambut Kunal masih basah. Dia menyuruh Kunal duduk di sofa dan  pergi mengambil handuk. Sambil melap rambut Kunal, Mauli berkata, "hari ini setelah bertahu-tahun, aku melihat Nandini sangat bahagia. Kau tahu, dulu dia gadis yang ceria. Dia selalu tertawa dan penuh semangat hidup." Lalu terdengar suara tawa nandini. Mauli bertanya apakah Kunal mendengarnya? Kunal mengangguk, "ya, aku mendengarnya."

Mauli berkata, "ketika dia memutus mangal sutranya hari ini, saat-saat itu sangat bagus. Wow!" Kunal terbayang saat-saat nandini melepas mangalsutranya. Mauli gembira karena itu artinya nandini sangat ingin lepas dari Rajdeep, "akhirnya dai berhasil. Dia juga menari dengan baik. Dan dia terlihat sangat cantik, saat menari, kan?" Kunal melamun. mauli menyentuh tangannya. Kunal menyahut, "ya. Aku senang akhirnya dia bebas." Mauli berkata kalau nandini sebaiknya menjadi guru dansa. Kunal setuju, "ya. Tapi itu keinginanya."

Mauli melihat gelagat Kunal yang seperti orang linglung, "kunal kenap aku begitu?" Kunal berkata kalau dia ada pekerjaan. Dan hendak bangkit. Mauli menahannya, "satu lagi. Kurasa sekarang nandini sebaiknya mengurus surat cerai. Haruskan aku membawanya ke pengacara? Bagaimana menurutmu?" Kunal meminta Mauli berhenti, "kenapa kau menginginkan dia bercerai? Itu adalah hidupnya. Dia yang berhak mengambil keputusan. Kenapa kau mengejarnya?"

Mauli bingung, "Kunal..." Kunal berkata kalau tugas Mauli adalah menasehati Nandini bagaimana seharusnya dia menjalani hidupnya, "dan kau menyuruh dia mengajukan gugatan cerai. Dia sendiri yang harus memikirkan itu." Mauli menurut, "ok..ok.. aku heran, apa yang terjadi padamu? Kau terlihat begitu tertekan." Kunal gugip. "ya, aku tahu. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku.." Kunal bangkit dan pindah duduk di epan meja kerja. Lalu terdengar suara ketukan di pintu. Kunal dan Mauli menoleh ke pintu.

Nandini masuk sambil tebar senyum pesona. Kunal semakin salah tingkah. Nandini memberitahu Mauli kalau dia membuat gorengan, "maukah kusiapkan teh daun mint untuk kalian berdua?" Mauli menyahut gembira, "gorengand an teh? Ya. Kita tak mendapatkannya di sana. Tolong buatlah.." Kunal menolak. Nandini menawari kopi. Kunal menggeleng. Mauli dan nandini heran melihat sikap Kunal.

Nandini bertanya pada Mauli, "apakah aku harus menambahkan cabe dan kubis dalam gorengannya?" Mauli memberi semangat, "campur semuanya dan buatlah. kami akan menikmatinya.." Kunal menolak lagi. Mauli merasa aneh. nandini berisik pada mauli, "kenapa?" Mauli menggeleng, "dia banyak kerja..." Lalu nandini pamit pergi.

Mauli menghampiri Kunal, "kenapa Kunal? Apakah kau baik-baik saja?" Kunal menyahut, "ya. AKu baik-baik saja. Kenapa?" Mauli menjelaskan, "kau menolak gorengan. Gorengan lho! Di cuaca seperti ini..." Kunal memperjelas, "ya. aku tak menginginkan." Mauli tak memaksa, "baiklah. AKu peri membnatu nandini.." Kunal berpesan agar mauli mnutup pintu setelah keluar. Mauli mengangguk. Begitu Mauli pergi, Kunal menutup layar laptty nya dan menyandarkan diri dikursi dengan wajah gelisah. Dia terlihat berpikir keras.

Mauli menemani Nandini memasak gorengan. Mauli berkata kalau hari ini tidak ada yang akan berdiet. Nandini mengangguk, "ya. Tapi ada seseorang yang terlihat kaku..." Mauli tertawa, "Kunal. Hanya tuhan yang tahu apa yang terjadi padanya. Dia menolak makan gorengan.." Nandini menyahut, "bukan gorengannya. Dia menolak ucpan terima kasihku.." lalu nandini memberitahu Mauli kalau hari ini dia bukan menari tapi.. "setelah sekian lama, aku menemukan diriku sendiri. Jadi kupikir, biar nggak cuma bilang terima kasih, maka aku buatkan gorengan ini..."

Mauli mengingatkan kalau teman tidak perlu berterimakasih. Nandini menjawab kalau Mauli hanya teman, tapi juga saudara, "kau sellau ada dalam suka dan duka ku. Tak masalah jika aku tidak berterima kasih padamu, tapi yang lain terutama Kunal telah melakukan banyak hal untukku. AKu tak tahu apa yang aku inginkan. tapi aku tahu pasti, kalau aku tak mau hidup bersama rajdeep." Mauli terssenyum dan mengelus pundak Nandini.

Nandini bertanya apa yang bisa dia siapkan yangtidak akan ditolak Kunal? Mauli tertawa, "sebenarnay, Kunal makan semuanya. Tapi ada satu hal..." Nandini memberitahu Mauli kalau dia tak ingin memberitahu Kunal, dia ingin membuat kejutan untuknya. Mauli setuju.

Kunal gelisah di kamarnya. Dia membuka laptop, tapi bayangan nandini yang sedang menari menghantui muncul di benaknya. lalu dai menutup laptop dan membuka buku. Kembali bayangan nandini hadir di matanya. Kunal sangat kesal. Dia bernajak ke tempat tidur. Dia menyandarkan kepala disandaran tempat tidur sambil memejamkan mata. Tapi lagi-lagi bayangan nandini yang sedang menari menghnatuinya. Kunal benar-benar kesal dan geram. Dia bangkit berdiri.

Mauli menyapanya, "Kunal, mengapa kau duduk di dalam? Ayo keluar. Semua sedang disana. Kita akan menikmatinya.." Kunal menolak, "tidak Mauli. Aku ada pekerjaan tang harus kukerjakan." Mauli menyergap, "jangan bohong!" Kunal heran, "bohong? Kenapa aku bohong?" Mauli berkata kalau dia melihat Kunal bangkit dari tempat tidur. Kunal protes, "memangnya kenap? Aku sedang memikirkan sesuatu. Masak tak boleh berbaring?" Mauli heran, "hei...kenapa kau marah? Apa yang terjadi? apakah semua baik-baik saja?" Mauli memegangi wajah Kunal dan menatapnya, "biar kulihat wajahmu..." Kunal protes, "jangan paksa aku, Mauli. Aku sangat letih. Kalau tidak, aku pasti datang.." Mauli menbujuk Kunal, "kita bukannya bergelut, kita cuma duduk relax. AKu sangat merindukanmu, sayang. Ayolah...kumohon!!" Kunal pun menurut.

Begitu keduanya keluar, lampu ruang tengah mati. Kunal kaget, "hei, mengapa lampu mati?" mauli melepaskan tangan Kunal dan beranjak pergi. Kunal teriak, "mauli, kenapa kau lepaskan tanganku?" Kunal meminta Mauli menyalakan lampu, tapi ada sahutan. Kunal binggung, "kemana semua orang?" Kunal protes, "Mauli, kau tahu aku tidak suka guyonan seperti ini.." Mauli meminta Kunal relax, "lampu mati dengan alasan.." Kunal kesal, "aku tahu, kau melakukanini untuk membuatku kesal. AKu akan menghidupkannya kembali.." 

Kunal beranjak hednak menghidupkan lampu ketika Nandini mendekat dengan kue yang di hias lilin. Kunal tertegun. Nandini mendekat. Kunal menatap nandini dengan nanar. Nandini tersneyum. Kunal terus menatapnay sambil membayangkan nandini yangs edang menari di bawah hujan. Lalu lampu menyala dan smeua orang bersorak. Kunal tersadar dari lamunannya dan bertanya, "hei, apa ini? Untuk apa?" Mauli hendak menjelaskan, tapi nandini memotong, "biar aku yang memberitahunya.."

Nandini berkata, "ini sebuah upaya.." Kunal heran, "upaya?" Nandini menjawab, "untuk waktu itu. Ketika aku tenggelam dan seseorang mengulurkan tangan untuk menolong. Dan ketika kau sesak nafas, seseorang membuka jendela. Untuk semua itu, ketika ucapan terima kasih tidak cukup.." Semua menarik nafas haru. Mauli juga nenek. Nandini menunjuk kuenya, "ini adalah sebuah upaya, untuk menunjukan rasa terima kasih dengan cara yang berbeda. Thank you, Kunal. terima kasih banyak.." Kunal termangu-mangu.

Nandini menatap Mauli, "mauli adalah temanku, sudah tugasnya menolongku. Tapi hubungan kita di dasarkan oleh rasa kemanusiaan. Dan sekarang, kita adalah teman. Bolehkan aku memanggilmu temanku?" Kunal mengangguk, "ya, kita berteman.." Mauli menyela, ".. kita adalah keluarga. Dan potongan terbesar dari kue ini adalah milikku.." Kunal tersenyum. Nandini menyahut cepat, "ya.. ya, Mauli. Aku menemukan teman baru karena dirimu, Thanks. Jadi rasa terima kasih terbesarku adalah untukmu.." Kunal menanyai nandini mengapa dia tiba-tiba menjadi begitu formal.

Bagikan :
loading...
Back To Top